Tamu dari mana?
Ketika
hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita harapkan tiba-tiba hadir, bagaimana
rasanya? Terkadang yang datang memang bukan suatu hal yang kita harapkan. Tapi,
ternyata hal-hal itu yang paling bisa merubah tatanan hidup kita.
Dan
aku ini bisa dibilang aneh. Bagiku “Jatuh
cinta pada pandangan pertama” itu nggak manjur di aku. Kenapa? Aku punya
rasa yang tumbuh subur sama orang yang sama sekali belum pernah kutemui
sebelumnya. Aneh, kan? Menatap wajahnya aja aku belum pernah, Bisa punya rasa?
Tentu bisa. Sejujurnya, aku juga nggak nyangka kenapa rasa ini tumbuh gitu aja.
Tanpa disadari, dan tanpa aku mau (Beneran
deh, ini bahaya!)
“Kamu
itu jatuh hati”
Iya,
dan bukan dari mata lalu turun ke hati yang seperti kata orang-orang. Terus,
ini dari mana? Tentu saja bukan dari pertemuan yang menghasilkan rasa kagum
sebelumnya.
“Tuhan menghadirkan rasa cinta di
hati makhluknya sesuai dengan yang IA kehendaki”.
Jadi, kita nggak tahu kepada siapa kita menaruh hati. Kita nggak bisa milih
kepada siapa rasa cinta itu bermuara. Menurutku, cinta itu rasa yang abstrak
kalau digambarkan. Nggak berbentuk. Karena kita nggak tahu bentuk awalnya
gimana. Aku nggak tahu polanya gimana sampai dia jadi abstrak.
Abstrak
juga kan ada bentuk awalnya, bisa jadi titik? Atau garis? Iya. Tapi, abstrak
kan bisa dimulai dari mana aja. Nggak berpola, nggak juga berbentuk khusus atau
tetap layaknya bentuk meja atau kursi yang ada di kanvas pelukis.
Kurasa,
cinta ini tumbuh tanpa pola yang teratur. Layaknya abstrak, yang bisa dimulai
dari bentuk apa aja. Aku nggak tahu pelukisnya bentuk apa dulu. Sama halnya
dengan aku nggak tahu sejak kapan rasa ini ada. Di hatiku.
Mungkin,
“Cinta itu buta” itu memang benar
adanya. Bukan berarti tergila-gila akan cinta. Namun, tanpa ada pertemuan pun
cinta bisa tumbuh di hati seseorang. (Cinta
sama makhluknya aja bisa, masa nggak bisa sama pemiliknya? Hayooo)
Jadi,
apa cinta memiliki bentuk? Beri tahu aku kalau ia berbentuk

Komentar
Posting Komentar